Keras Kota bukan berarti Keras Hati


3 Januari 2020 pertama kalinya aku memutuskan untuk mengambil suatu pekerjaan dan harus menetap untuk sementara waktu di Surabaya, yang orang banyak menyebutnya kota "Bonek". Yap, Surabaya terkenal sekali dengan cuacanya yang panas saat musim kemarau tiba eh ga ding, musim ujan juga panas banget wkwk.  Pekerjaanku yang saat itu lebih banyak melakukan survey dari rumah ke rumah membuat otakku harus bekerja extra untuk menghafal jalan dan itu challenge banget buat aku. Banyak stigma yang bertebaran di masyarakat kalau kota besar itu kehidupan dan watak masyarakatnya keras, tapi yang kutemui saat itu tidak sesuai dengan stigma yang melintas di telingaku dan sepintas aku berfikir bahwa apa yang aku dengar mungkin hanya opini publik belaka. Hampir dua bulan aku berada di Surabaya dan hampir setiap hari aku bertemu dengan orang yang berbeda namun lagi lagi aku masih dipertemukan dengan orang baik, tapi kali ini sedikit berbeda karena aku menemukan sutau relaita yang buat aku agak terheran heran, karena ternyata kehidupan di pinggiran sungai, rel dan rumah susun dengan fasilitas yang ala kadarnya dan dengan tingkat kebersihan yang minim itu nyata dan benar adanya. Seketika aku terdiam bahwa hidupku jauh lebih layak dibanding mereka dan aku merasa tertampar saat itu karena aku masih sering sekali mengeluh dan merasa kurang. Setiap perjalanan yang aku lalui penuh dengan pelajaran hidup bahwa apapun yang kita miliki saat ini wajib untuk disyukuri. Di satu waktu aku menghadiri pertemuan dimana isinya adalah kami para surveilens dan petinggi Dinas Kesehatan, saat itu kegiatan kami yaitu pemaparan data yang telah kami peroleh selama 2 bulan. Di akhir acara seperti biasa kami dibagikan nasi kotak lengkap dengan snack dan air minum. Ketika aku mau pulang ada salah satu panitia yang menawarkan nasi kotak lagi tapi aku menolak karena sudah cukup buatku satu saja. Seketika terlintas di dalam pikiran wanita 23 tahun ini untuk meminta nasi kotak itu  dibagikan ke orang pinggir jalan, entah kenapa hanya berbekal ilmu sotoy spontan saja aku mengusulkan untuk dibagikan ke orang orang yang lebih membutuhkan karena saat itu semua peserta sudah membawa bagian masng masing bahkan petinggi pun sampai menawar nawarkan untuk mengambil lagi. Aku pikir usul itu bakal diterima ternyata usulku mendapat respon yang kurang baik, mereka menolak usulku dengan mengernyitkan alisnya. Sontak aku kaget dan langsung teringat stigma yang pernah mampir di telingaku. Kal ini aku tidak menyangkalnya sama sekali dan membenarkan bahwa kota besar identik dengan watak rakyatnya yang keras juga mungkin karena terdorong lingkungan dan keaadan, ya meskipun tidak semua seperti itu. Nilai yang bisa aku ambil saat itu adalah bisa jadi kita berada di lingkungan dan situasi yang keras tapi jangan biarkan perasaan dan empati mu mengikutinya :))

with love,
Kurnia
#spreadpositivity

Komentar